
Mural pilar di studio Desain Komunikasi Visual (DKV) Petra Christian University menjadi bukti nyata kreativitas mahasiswa semester 2. Melalui mata kuliah Studio Ilustrasi Dasar, mereka mengubah elemen struktural yang kaku menjadi kanvas narasi visual yang dinamis. Proyek ini bukan sekadar tugas akademis, melainkan simulasi praktek nyata di mana kemampuan artistik, manajemen teknis, dan kolaborasi tim diuji secara simultan di lingkungan kampus Petra yang suportif.
Oleh karena itu, transformasi studio ini memiliki dampak signifikan bagi ekosistem belajar di DKV PCU. Bagi mahasiswa, ini adalah kesempatan pertama mereka menangani media publik berskala besar secara berkelompok. Bagi prodi, ini memperkuat komitmen DKV PCU (yang telah terakreditasi Internasional oleh AQAS) dalam menyediakan metode pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning) yang relevan dengan tren industri kreatif saat ini.
Dari Sketsa ke Dinding: Proses Kreatif Tanpa Batas
Proses penciptaan mural ini mengikuti standar operasional prosedur profesional. Mahasiswa tidak langsung mengecat pilar. Mereka harus melalui beberapa tahapan krusial untuk memastikan hasil akhir yang estetis dan tahan lama.
| Tahapan Proyek | Aktivitas Utama Mahasiswa DKV | Output |
| 1. Riset & Konsep | Analisis pilar, penentuan tema kelompok, riset visual. | Moodboard, Premis Cerita. |
| 2. Asistensi Sketsa | Pembuatan sketsa, asistensi dosen, revisi komposisi. | Sketsa Final disetujui. |
| 3. Persiapan Teknis | Pembersihan pilar, blocking warna dasar, pembuatan grid. | Pilar siap cat. |
| 4. Eksekusi Mural | Pemindahan sketsa, pewarnaan kolaboratif. | Mural 80% selesai. |
| 5. Finishing | Penambahan detail, outline, dan finalisasi. | Karya Mural Final. |
Proses panjang ini memastikan bahwa setiap pilar memiliki karakter unik namun tetap harmonis dengan tema besar studio.
Kekuatan Kolaborasi dalam Studio Ilustrasi
Salah satu kunci sukses proyek ini adalah sistem kerja berkelompok. Setiap pilar dikerjakan oleh tim yang terdiri dari 4-5 mahasiswa. Kolaborasi ini memaksa mereka untuk menurunkan ego, membagi tugas sesuai keahlian (misalnya: ada yang unggul di konsep, lining, atau coloring), dan mengelola waktu secara efisien. Kemampuan soft skills inilah yang sangat dibutuhkan saat mereka lulus dan bekerja di industri kreatif.




